Golden Westindo Siap IPO, Bidik Dana Segar Rp82,28 Miliar

JAKARTA – PT Golden Westindo Artajaya Tbk (GWAA) bersiap melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan menetapkan tarif penawaran awal senilai Rp100 hingga Rp120 per lembar saham. Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 685,71 miliar lembar saham atau 30% dari modal ditempatkan serta disetor penuh pasca IPO, dengan nilai nominal Rp25 setiap saham.
Direktur Utama GWAA Rusdi Djamil Lioe menjelaskan pemakaian dana hasil IPO yang tersebut ditaksir mencapai sebesar Rp82,28 miliar akan digunakan untuk belanja modal (capex) untuk pembelian lahan, pengerjaan juga pembelian peralatan yang seluruhnya untuk Artemia Hatching Facility. Adapun masa book building pada 10-18 September 2024, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 25 September 2024, juga masa penawaran umum pada 27 September- 1 Oktober 2024.
“Selain itu akan digunakan untuk modal kerja, dan juga pembangunan ekonomi pada bentuk penyertaan modal pada PT Kyorin Group Indonesia,” ujar Rusdi di keterangan resmi, disitir Kamis (12/9/2024).
Baca Juga: 123 Korporasi Antre IPO, Total Dana Diperkirakan Tembus Rp59,68 Ribu Miliar
Sementara, Direktur GWAA Karolina Leo mengatakan perseroan berencana untuk mendirikan dua “Artemia Hatching Facility” dengan total penanaman modal sekitar 40,5% dari dana hasil IPO.
“Fasilitas ini nantinya akan memproduksi pakan pembenihan alami siap pakai (ready-to-use) di bentuk ‘nauplii’. Pendirian Artemia Hatching Facility merupakan pembaharuan item yang digunakan dikembangkan Perseroan untuk memenuhi keperluan pelanggan lalu industri,” ujar Karolina.
Artemia Hatching Facility yang didirikan di dalam Lampung ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2025, juga Situbondo, Jawa Timur mulai operasi kuartal II-2026. Pada 31 Desember 2023, GWAA mencatatkan pendapatan perniagaan senilai Rp98,53 miliar, dengan laba periode berjalan senilai Rp16,13 miliar.
Dengan nilai tersebut, perseroan mencatatkan nilai net profit margin (NPM) sebesar 16,38% atau lebih besar besar dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 10,18 %. Perbaikan NPM didorong oleh pengelolaan biaya yang digunakan efektif oleh perseroan, mencakup beban pokok pendapatan dan juga beban usaha, dengan rasio keuangan meningkat dengan sangat baik, dengan return on equity (ROE) mencapai 20,37% lalu return on asset (ROA) sebesar 14,73% pada 2023.
Sebagai informasi, perseroan bergerak dalam sektor perdagangan pakan pembenihan udang dan juga ikan, pakan ikan hias, peralatan akuarium, juga pakan beku ikan hias. Organisasi engoperasikan dua segmen kegiatan bisnis utama, yaitu aquaculture lalu aquatic,” ujar Rusdi.
Dalam segmen aquaculture, perseroan menyediakan hasil pakan pembenihan alami (artemia) dengan merek “Golden West Artemia” serta pakan pembenihan buatan dengan merek unggulan “BernAqua”. Untuk segmen aquatic, perseroan menawarkan komoditas pakan ikan hias dengan merek “Hikari”, komoditas pakan beku ikan hias yang diproduksi oleh entitas usaha yaitu PT Kyorin Group Indonesia, dan juga berbagai peralatan akuarium dengan merek ternama “Eheim”.
Baca Juga: OJK Dorong Emiten Tingkatkan Transparansi Pemakaian Dana IPO
Produk perseroan mencakup pakan pembenihan alami (artemia), pakan pembenihan buatan, pakan ikan hias, dan juga peralatan akuarium. Adapun, distribusi menyasar ke lingkungan ekonomi domestik, di area antaranya Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan juga Sulawesi Tenggara.
Sedangkan, barang pakan beku ikan hias yang tersebut diproduksi PT Kyorin Group Indonesia menyasar segmen lingkungan ekonomi ekspor, dengan wilayah pemasaran ketika ini mencakup Amerika Serikat, Jepang, juga Korea Selatan. Dengan pangsa bursa sebesar 30% di tempat Indonesia, kemitraan strategis perseroan dengan pemasok Internasional, di area antaranya Great Salt Lake Artemia (Amerika Serikat), Bern Aqua NV (Belgia), Kyorin Co. Ltd. (Jepang), juga Eheim GmbH & Co. KG (Jerman) telah lama meningkatkan kekuatan sikap Perseroan di area pada persaingan lapangan usaha selama 30 tahun terakhir.






