Pengamat Sebut Fenomena Blitzkrieg Dalam Pergantian Ketua Umum Partai Golkar

JAKARTA – Pakar Pertahanan, Pengajar, juga Alumnus Doktoral Strategi Defense Unhan RI Dina Hidayana, mengawasi ada fenomena serangan kilat (blitzkrieg) di proses pergantian Ketua Umum di area salah satu partai besar kemudian bersejarah dalam Indonesia, yakni Partai Golkar .
Perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Golkar baru belaka berakhir, Kamis 22 Agusutus 2024 dengan terpilihnya Ketua Umum yang mana baru, Bahlil Lahadalia, menggantikan Airlangga Hartarto yang digunakan sesuai periodeisasinya berakhir 4 bulan tambahan cepat. Ketua umum terpilih sekaligus ditetapkan sebagai formatur tunggal yang digunakan secara sendirian berwenang menentukan komposisi lalu personalia Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.
Dina, yang mana juga Ketua Depinas SOKSI ini mengemukakan adanya perspektif pertempuran dikenal istilah Blitzkrieg, yakni strategi atau taktik menyerang serta menguasai yang mana dapat dilaksanakan secara individu maupun kolektif. Serangan bersifat mendadak (kilat), fokus serta tepat sasaran. Sehingga lawan bahkan tidak ada sempat bersiap untuk melakukan pertahanan diri ataupun perlawanan, yang digunakan berujung pada kekalahan telak dari sasaran atau target operasi.
Lebih lanjut Dina menjelaskan, taktik atau strategi ini pun banyak berlaku di area dunia politik. Sehingga tak mengherankan kejadian suksesi atau pergantian rezim ada beberapa yang mana bersifat tidaklah terduga. Pelibatan kombinasi kekuatan darat, laut dan, udara mutlak diperlukan untuk memverifikasi keberhasilan dari serangan kilat, dikarenakan tanpa persiapan sistematis kemudian kontrol penuh maka bak urusan politik bunuh diri bagi sang panglima serta pasukannya.
Golkar karenanya pada waktu ini sedang menghadapi fase pascaserangan kilat. Reintegrasi relatif tidaklah mudah, oleh sebab itu sempat menyeberangi efek kejut akibat blitzkrieg. Isu berkelindan antara pro kontra penguasa lama juga baru, menguatnya geng Munas Ancol vs Bali, dan juga sebagainya.
“Transisi ini, karenanya memerlukan kepiawaian pemimpin terpilih untuk melakukan konfirmasi agregasi kepentingan (konsolidasi), perencanaan strategis lalu stabilitas jangka panjang dapat diterima para pihak untuk meminimalisir timbulnya disiden kemudian ketidakstabilan, hingga kecemasan adanya tragedi Ken Arok yang digunakan berkelanjutan,” ujar Srikandi berdarah Mataram ini, Mingguan (25/8/2024).
Dina menyebutkan, beban berat Ketua Umum terpilih, salah satunya akibat menakhodai partai yang mana telah dilakukan dipersepsikan masyarakat sebagai partai matang pengalaman berisi orang-orang mumpuni dengan tingkat loyalitas kemudian jiwa korsa yang tersebut relatif tinggi terhadap eksistensi partai. Rakyat pun masih berharap pemeliharaan serta keberpihakan pada Partai Golkar yang pada waktu ini menjadi runner up pemilu.
“Tantangan bagi insan Golkar ini dipertebal dengan bukan adanya tradisi patronase atau mengkultuskan individu pemimpin,” tegas Dina.





