Domestikasi Digital, Happy atau Kita Harus Ngeri?

Ressa Uli Patrissia
Mahasiswi Inisiatif Doktor Keilmuan Komunikasi, Universitas Sahid Jakarta
SELAIN unsur estetik, design tempat tinggal yang dimaksud cerdas tentu memerhatikan bagaimana rumah menjadi ruang yang hangat oleh sebab itu ada interaksi di dalam antara anggota-anggota keluarga. Kepala keluarga kadang merancang tata letak, kamar tamu, atau bahkan sesederhana memilih warna dinding dengan maksud lalu tujuan agar perbincangan verbal mekar dalam dalamnya.
baca juga: Kisah Inspiratif Para Polisi Dermawan, Sumbangkan Gaji hingga Bangun Rumah Cerdas
Rumah yang dimaksud baik dipercaya melahirkan keluarga yang dimaksud harmonis, kuat serta yang mana kekuatannya mengalir ke masyarakat, bahkan bangsa serta negara. Maka, patutlah kita turut merenungkan sisi negatif prediksi yang dilontarkan Jenny Kennedy, Michael Arnold, Martin Gibbs, Bjorn Nansen, kemudian Rowan Wilken ketika para peneliti ini mengulas konsep “domestikasi digital” dan juga menyebarkan gagasannya ke pada buku dengan judul yang tersebut sama.
Memang benar bahwa sisi positif intervensi teknologi digital ke pada rumah begitu berlimpah. Secara berimbang, merekan juga menguak kengerian di area balik trend homenet. Istilah yang dimaksud bisa saja diterjemahkan dengan rumah pintar itu diambil dari kombinasi dari home kemudian network. Pemikiran jaringan rumah (home network) mulai tumbuh seiring dengan meningkatnya penyelenggaraan komputer pribadi dan juga konektivitas internet di area rumah pada akhir 1990-an serta awal 2000-an.
Pada masa itu, berbagai rumah tangga yang dimaksud mempunyai lebih banyak dari satu perangkat komputer juga mulai merasakan keperluan untuk menghubungkan perangkat-perangkat yang dimaksud untuk dapat berbagi koneksi internet, file, serta alat-alat seperti printer. Seiring dengan perkembangan teknologi, teristimewa dengan munculnya Wi-Fi lalu mobile phone, konsep homenet menjadi semakin relevan.
Saat ini, rumah pintar bukan belaka mencakup komputer, tetapi juga berbagai perangkat pintar seperti smartphone, tablet, smart TV, kamera keamanan, dan juga berbagai perangkat Internet of Things (IoT). Homenet, sistem pada di rumah yang digunakan mengintegrasikan smartphone, sensor terbuka, dan juga komputasi pada mana-mana pada rangka meningkatkan organisasi rumah tangga merupakan salah satu contoh domestikasi digital.
Jepang adalah salah satu negara dengan adopsi teknologi yang tersebut sangat maju, termasuk pada hal jaringan rumah atau homenet. Di Jepang, sistem homenet rutin kali mencakup berbagai perangkat dan juga teknologi yang mana saling terhubung untuk memberikan kenyamanan, keamanan, dan juga efisiensi bagi penghuninya. Idea homenet atau jaringan rumah memang benar sudah pernah diterapkan secara luas di tempat berbagai negara di area seluruh dunia.
baca juga: Rumah Terampil BSD City Gelar Kuliah Online Metode Belajar Negara Maju
Negara-negara progresif dalam Amerika Utara, Eropa, lalu Asia Timur adalah yang digunakan paling cepat kemudian luas di mengadopsi teknologi jaringan rumah. Jangankan di dalam Negeri Sakura kemudian negara-negara maju yang digunakan kita kenal dengan kemajuan teknologinya, di tempat Indonesia pun konsep rumah pintar sudah ada sejumlah kita temukan.




