Deforestasi di Suaka Margasatwa Rawa Singkil, KLHK Bantah Ada Perambahan Hutan
Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup lalu Kehutanan (KLHK) membatah adanya perambahan hutan ke Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Aceh. Satu-satunya asal-mula berkurangnya luas hutan di wilayah konservasi rawa gambut itu disebutkan adalah inovasi pengukuhan kawasan mengikuti inovasi luasan.
“Berkurangnya kawasan SM Rawa Singkil tidak oleh sebab itu perambahan, tapi dikarenakan adanya inovasi pengukuhan kawasan mengikuti pembaharuan luasan,” kata Direktur Jenderal Konservasi Informan Daya Alam juga Ekosistem (KSDAE) KLHK, Satyawan Pudyatmoko, di informasi tertulisnya terhadap Tempo, Selasa, 30 Juli 2024.
Menurut Satyawan, total areal yang tersebut dibuka mengikuti pembaharuan kawasan pada Suaka Margasatwa Rawa Singkil sejak 2019 hingga Agustus 2023 seluas 1.538,679 hektare. Sebelumnya, seluas 20.677 hektare areal hutan di kawasan yang dimaksud sebanding telah terjadi tambahan dulu dilepas antara 1998 (SK Menteri Kehutanan Nomor 166 Tahun 1998) sampai 2021 (SK Nomor 6616 Tahun 2021).
Satyawan bukan menjabarkan ihwal pengukuhan kawasan pada inovasi yang terbaru. Tapi, beliau mengklaim kalau KLHK di mengamankan dan juga mengawasi kawasan konservasi sudah ada menerapkan sistem patroli cerdas untuk menjaga dari aktivitas ilegal di dalam Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Setiap adanya upaya pembabatan hutan mampu dideteksi secara dini sehingga bisa jadi melakukan pencegahan secepat mungkin.
Dia mengumumkan adanya tekanan terhadap Suaka Margasatwa Rawa Singkil lantaran kawasan ini berbatasan segera dengan permukiman dan juga tidaklah miliki tempat penyangga (buffer zone). “Tekanan terhadap SM Rawa Singkil telah diketahui BKSDA Aceh kemudian beragam upaya menangani tekanan telah lama kami lakukan,” kata dia.
Peta Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Istimewa
Bahkan, menurut Satyawan, BKSDA Aceh telah lama melakukan operasi gabungan yang tersebut menggandeng aparat keamanan dan juga pemerintah setempat sebagai bagian dari patroli penjagaan tersebut. Hasilnya, hingga pekan lalu, menurut Satyawan, pengamanan kawasan suaka margasatwa tiada menemukan adanya membuka lahan baru.
Hanya ada beberapa titik api tapi ini pun diyakinkan Satyawan hanya saja areal bukaan lama serta dapat dikendalikan. “Surat imbauan untuk turut mengawasi agar bukan ada penambahan bukaan lahan juga sudah ada disebar untuk memverifikasi tidaklah adanya aktivitas alat berat kemudian pembakaran lahan dalam SM Rawa Singkil,” ucap Satyawan.
Menurut Satyawan, Suaka Margasatwa Rawa Singkil cukup berisiko untuk menyebabkan kebakaran hutan juga lahan. Dia telah dilakukan menginstruksikan BKSDA Aceh untuk memulihkan lingkungan seluas 321,8 hektare sejak 2018 melalui pengendalian hidrologi yang dimaksud sekaligus memitigasi Karhutla. Lebih lanjut, upaya pengamanan juga menggandeng penduduk setempat untuk bermetamorfosis menjadi Publik Mitra Polhut (Polisi Hutan).
Temuan Berbeda dari Lapangan
Sebelumnya, Yayasan Hutan Alam dan juga Lingkungan Aceh (HAkA) memantau deforestasi berjalan semakin masif ke area suaka margasatwa rawa gambut terbesar ke Aceh ini. Sejak awal 2019 sampai Juni tahun ini, kehilangan tutupan hutan sudah ada seluas 2.030 hektare atau setara lebih tinggi dari tujuh kali luas kompleks GBK dalam Senayan, Jakarta.
“Bisa kita bayangkan, suaka margasatwa yang dimaksud menjadi kawasan paling sakral untuk konservasi dan juga seharusnya dijaga malah terus menyusut setiap tahunnya,” kata Rubama dari HAKa, ketika dengan rombongannya berkunjung ke kantor Tempo Jakarta, Kamis, 25 Juli 2024.
HAkA dengan LBH Banda Aceh kemudian beberapa jumlah organisasi lainnya berkeliling ke DKI Jakarta mengadukan apa yang dimaksud menjadi keresahan mereka ke Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Menurut mereka, pada radius lima kilometer dari kawasan suaka margasatwa itu memang sebenarnya terdapat 63 desa. Namun HAKa dkk tidaklah yakin deforestasi untuk lahan sawit dengan penyelenggaraan kanal yang rapi dan juga pengerahan alat berat di dalam kedudukan itu diwujudkan hanya sekali oleh warga biasa.
“Kami meninjau aktivitas alat berat yang dimaksud secara terang-terangan beroperasi ke kawasan SM Rawa Singkil tapi aktivitas ini tampak seperti didiamkan saja,” ucap Rubama menambahkan.
Deforestasi pada Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Istimewa
Rubama mengakui kalau secara luasan, deforestasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil sangat kecil jika dibandingkan yang berjalan di dalam provinsi atau pulau lain. Namun lokasinya yang tersebut berada di area suaka margasatwa yang mana dianggap sebagai status konservasi tertinggi, juga ketiadaan upaya penting pada lapangan untuk mencegahnya, memaksa HAKa menggandeng yang tersebut lain memberanikan diri mengadu ke Jakarta.
Lalu, suaka margasatwa itu adalah rumah penduduk utan dengan kepadatan populasi mencapai 5 individu per kilometer persegi. Teridentifikasi pula 122 jenis burung yang mana hidup pada sana yang 32 ke antaranya berkategori dilindungi kemudian 20 jenis lainnya masuk Red List IUCN dan juga apendiks CITES. “Ada juga 123 jenis mamalia di dalam sana, diantaranya harimau sumatera,” ucap Rubama.
Koreksi 1 Agustus 2024 pukul 08.59 Waktu Indonesia Barat untuk akurasi kutipan Direktur Jenderal KSDAE tentang peluang ancaman Suaka Margasatwa Rawasingkil
Artikel ini disadur dari Deforestasi di Suaka Margasatwa Rawa Singkil, KLHK Bantah Ada Perambahan Hutan



